1. Asal usul Komodo

Ahli palaeontologi dan arkeologi dari Australia, Malaysia dan Indonesia membuktikan
tulang Komodo sama dengan tiga fosil hewan yang ditemukan di Queensland. Itu
memperkuat teori bahwa Australia adalah tempat evolusi Komodo.
Fosil yang ditemukan di Queensland menunjukan bahwa Komodo berasal dari
Australia, sekitar empat juta tahun yang lalu dan bertahan kira-kira hingga 300.000
tahun lalu.
Para peneliti juga menemukan bahwa Komodo menyebar ke sejumlah wilayah,
kemudian sampai di Pulau Flores sekitar 900.000 tahun lalu sebagai rumah terbaik bagi
hewan itu.
Sementara di tempat asalnya, Australia, Komodo punah 50.000 tahun lalu yang
bertepatan dengan saat manusia tiba di Australia. Komodo juga menghilang dan
punah di beberapa pulau lain di Indonesia, kecuali Flores.
2. Bisa melahirkan dalam kondisi perawan
Perempuan mungkin bisa hidup tanpa laki-laki, ini setidaknya berlaku untuk
Komodo. Biawak raksasa betina bisa menghasilkan bayi tanpa pembuahan jantan.
Flora, Komodo yang tinggal di Chester Zoo, London menjadi buktinya. Pada
2006 lalu, ia melahirkan delapan telur Komodo. Melalui proses partenogenesis –
reproduksi aseksual tanpa pembuahan. Dalam keadaan perawan.
Kejadian di kebun binatang London itu adalah pertama kalinya partenogenesis
pada Komodo yang tercatat terjadi di dunia.
Ilmuwan menguak reproduksi Komodo bisa dilakukan dengan dua cara yaitu seksual
atau aseksual, tergantung pada kondisi lingkungan mereka. Di kebun binatang,
biasanya Komodo betina ditempatkan terpisah dari yang lain.
3. Misteri gigitan mematikan Komodo
Meski berbadan besar bahkan bisa mencapai 3 meter, gigitan Komodo termasuk
lembek. Namun, entah bagaimana, kadal raksasa itu bisa memangsa hewan besar,
seperti kerbau misalnya.
Apa rahasia gigitan Komodo?
Ahli biologi dari University of New South Wales, Australia menemukan, dalam
mulut Komodo terdapat beberapa lusin gigi setajam silet.Gigi runcing itu dikombinasikan dengan otot kuat di lehernya yang gemuk.
“Kombinasi teknik makan cerdas dan tajamnya gigi, memungkinkan gigitannya bisa
berakibat mematikan,” kata ahli biologi, Stephen Wroe.
Untuk menguak misteri gigitan Komodo, para ahli membangun sebuah model
kepala dan tenggorokan hewan itu dengan perangkat lunak. Rahang Komodo boleh
saja lemah, tapi 100 juta tahun evolusi telah memberinya senjata yang ampuh.
“Komodo punya teknik makan yang unik, terus menerus menarik makanannya. Ia
menangkap mangsanya dan menghujamkan 60 gigi tajam. Menutupi kekurangan gigitan
yang lemah, otot tenggorokannya yang kuat akan menarik mangsa masuk ke perut.”. Komodo akan menelan utuh-utuh mangsanya dan memuntahkan sisa-sisa yang tak
dapat ia cerna seperti rambut dan sebagian tulang.
4. Di balik air liur Komodo yang mematikan
Selain keunikan teknik makannya, Komodo juga memiliki senjata lain untuk
melumpuhkan mangsanya yaitu air liur. Meski seekor hewan bisa lolos dari serangan Komodo, ia segera melemah dan
akhirnya mati. Untuk jangka waktu yang lama, peneliti menduga, bakteri di air liur hewan
itu bertanggung jawab menimbulkan luka infeksi yang parah pada korbannya.
Bakteri itu meracuni darah korban.
Namun, dugaan itu terbantahkan pada tahun 2005 lalu. “Adanya bakteri dalam
air liur Komodo atelah menjadi dongeng ilmiah,” kata Bryan Fry, peneliti racun
di University of Melbourne, Australia. Fry dan timnya mempelajari susunan biokimia dalam air liur Komodo. Mereka
menemukan, racun tersebut bisa dengan cepat menurunkan tekanan darah,
mempercepat hilangnya darah, dan membuat korban menjadi syok — hingga tak
berdaya melawan.
Para ilmuwan menemukan, apa yang terkandung dalam liur Komodo serupa dengan
racun yang dimiliki ular paling berbisa yang hidup di pedalaman Taipan,
Australia. Sementara para rekannya takjub dengan penemuan ini, Fry mengaku tak heran.
Sebab, penelitian yang pernah ia lakukan sebelumnya menemukan, sejumlah spesies
kadal contohnya seperti Iguana, kadal tak berkaki, dan kadal monitor juga memiliki
bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar